Laman

Minggu, 18 September 2011

KENDURI KEMATIAN PADA MASYARAKAT ACEH


KENDURI KEMATIAN PADA MASYARAKAT ACEH

Selama tujuh hari dilaksanakan samadiah atau tahlil, juga dilaksanakan acara mengaji (membaca Al-Qur'an). Pada malam-malam tersebut hadir para kerabat dan keluarga lingka (jiran). Biasanya pada acara ini diakhiri dengan keunduri (makan bersama) atau cukup minum dan kue-kue, tergantung dari tingkat ekonomi dan kesediaan ahli waris si mati. Sedangkan pada malam 10, malam 20, malam 30, dilaksa-nakan keunduri untuk teungku saja.

Pada hari ke-40 atau 44 merupakan upacara agak besar sebagai keunduri arwah yang lebih besar dari hari-hari lainnya. Bagi keluarga yang mampu, biasanya pada acara keunduri disembelih kerbau atau lembu. Dalam kenduri hadir seluruh kerabat (ahli waris), jiran-jiran atau orang-orang yang patut. Biasanya mereka diundang terlebih dahulu, dan acara kenduri ini diadakan pada malam hari. Setelah acara makan kenduri, biasanya dilanjutkan dengan mengaji atau meuseulawet (zikir), kadang-kadang berlangsung sampai pagi hari. Kepada mereka yang berzikir biasanya diberikan sedekah. Pagi hari (seusai acara kenduri pada malam), keluarga dan kerabat melakukan ziarah ke kuburan dengan membawa nasi kuning dan buah-buahan, sera batu nisan. Acara ini disebut dengan pula batee (tanam batu). Kedua batu nisan yang sudah diukir nama dan waktu kelahiran dan kematian si ma-yat dalam kubur ditanam masing-masing di bagian kepala, lalu dilakukan acara doa.

Dalam tradisi masyarakat Aceh dahulu, dalam ziarah kubur peringatan 44 hari orang meninggal, famili-famili perempuan membawa serta reuhab ke kuburan sambil melihat pakaian itu sepotong demi sepotong familinya itu bertangis-tangisan di kuburan yang mati. Kaum perempuan juga menyirami air wangi di atas kuburan dan disiram bunga-bungaan namun saat ini sudah hilang dengan sendirinya dan pakaian-pakaian si ma-yat dicuci bersih untuk dihadiahkan kepada fakir-miskin. Begitu juga menempatkan sebuah tempayan (mundam) yang berisi air di tempat tidur orang meninggal, sudah tidak ada lagi dan sudah ditinggalkan. Dahulu diyakini bahwa arwah si mayat akan pulang ke rumah. Begitu juga adanya larangan bagi istri, anak-anak, abang dan adik yang meninggal dunia untuk tidak memakai gaca (inai) jika belum sampai waktu 100 hari orang meninggal. Hal ini mungkin 100 hari itu dianggap sebagai hari berdukacita. Ini pun sudah hilang dalam masyarakat Aceh.

Seorang perempuan (janda) yang mencintai suaminya yang sudah meninggal, selalu mengeluarkan sedekah untuk kesejahteraan suaminya, bila sang suami itu kaya. Apalagi sebelum saatnya dilakukan pembagian harta (faraid). Namun jika suaminya itu tidak mampu dan memiliki hutang, maka harta suaminya itu harus digunakan untuk membayar hutang-hutang tersebut. Intinya seluruh biaya penyelenggaraan bagi orang yang meninggal, misal biaya gali kubur, sedekah untuk teungku dan sebagainya diambil dari harta yang ditinggalkan orang yang sudah meninggal tersebut.

Seluruh pengeluaran biaya yang dilakukan seorang wa-nita (isteri) yang meninggal selalu dimusyawarahkan dengan wali si mayat agar tidak ada masalah ketika pembagian harta pusaka sebagai warisan nantinya. Namun jika yang meninggal itu memiliki anak laki-laki yang sudah dewasa, maka wali (adik atau abang) yang meninggal tidak berhak apa pun. Anak laki-laki itulah yang bertanggungjawab atas semuanya termasuk harta pusaka yang digunakan ibunya. Biasanya dalam masyarakat Aceh, keluarga yang meninggal tidak memperhitungkan berapa habis terutama untuk biaya penguburan dari seorang yang telah berumah tangga asalkan ia mampu. Namun kenduri kematian sebagaimana tradisi adat Aceh dulu semakin hilang.
Hal menyusul munculnya dua faham di kala-ngan masyarakat yaitu tradisional dan modern. Apalagi pe-laksanaan kenduri yang tidak jarang menyusahkan keluarga yang meninggal tidak sesuai dengan ajaran agama. Misalnya, karena mengadakan kenduri dan makan-makan, maka anak-anak yatim harus menjual harta mereka minimal berhutang hanya untuk kepentingan acara kenduri.

Dalam masyarakat Aceh sekarang, acara kenduri semakin disederhanakan sesuai tingkat ekonomi orang yang melakukan kenduri. Namun ziarah kubur masih tetap dilangsungkan sampai sekarang, terutama pada hari-hari besar Islam seperti Hari Raya, famili yang kadang datang dari jauh selalu menyempatkan diri ziarah ke kubur keluarganya pada hari-hari istimewa tersebut. Di kuburan, orang berdo'a minimal membaca surat Yasin, membersihkan kuburan dan menabur bunga-bunga sambil mengenang bahwa suatu ketika ia juga akan dikubur seperti orang yang saat ini mendahuluinya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar